Minggu, 05 Juli 2009

Hantu Cekik

Hantu Cekik

AWAS, HANTU CEKIK DATANG LAGI!


Entah sampai kapan masyarakat Demak terhindar dari teror hantu cekik. Kalau teror bom bisa dihentikan dan pelakunya dapat ditangkap, kenapa teror hantu datang hampir setiap tahun tidak dapat dihentikan? Kiranya perlu dicari solusi untuk meredam teror hantu ini.

Akibat paling mencolok dari isu hantu cekik ini adalah terjadinya tindak anarki terhadap orang-orang yang diduga telah menyebabkan munculnya hantu cekik.

Kedatangan hantu cekik ini juga sangat memengaruhi ritme hidup keseharian warga. Akibat dari teror hantu cekik ini, warga berjaga semalaman suntuk tanpa tidur.

Hampir tiap malam suasana kampung mencekam. Warga keluar rumah untuk jaga malam. Sering pula terdengar suara kentongan atau adzan yang menandakan adanya korban atau warga melihat sesuatu yang dicurigai. Pernah pula orang gila ditangkap dan dimasukkan di sel polisi, bahkan kucing yang dicurigai juga dikejar-kejar dan ditangkap ditunggu berubah menjadi manusia kembali.

Pada siang hari kewaspadaan tetap terjadi yaitu kepada setiap orang luar yang masuk wilayah.

Masyarakat menjadi resah dan kebingungan. Mereka menjadi irsional, konsentrasi warga hanya terpusat prihal hantu cekik. Hal-hal lain yang lebih penting menjadi kurang terurus.

Hantu cekik adalah makhluk gaib yang dipercaya membunuh orang dengan cara mencekik leher. Tanda-tanda kedatangan hantu tersebut menurut warga adalah muncul bayangan hitam dan bola api. Selain hantu cekik sebenarnya di Demak juga dikenal hantu-hantu yang lain. Ada hantu damar teng,pocong, babi ngepet, dan tuyul.

Isu hantu cekik menyebar biasanya setelah ada warga yang dianggap mati secara tidak wajar, misalnya ada tanda hitam di leher, seperti dicekik.

Di kabupaten Demak teror terakhir terjadi di kecamatan Dempet pada April-Mei 2008, sebelumnya November 2007 di kecamatan Bonang, dan pada Oktober hingga November 2005 juga datang di kecamatan Sayung, Bonang, Karangtengah, Wedung dan beberapa kecamatan yang lain.

Berbagai cara juga dilakukan oleh warga, mulai dari menuliskan rajah di pintu rumah. Ini dilakukan dengan tujuan supaya hantu tidak berani masuk. Ada pula yang menggambar gambar hantu di rumah, dengan tujuan supaya hantu cekik kalau mau masuk melihat sudah ada hantu tidak jadi masuk.

Pola Pikir

Proses terbentuknya isu teror hantu cekik ada beberpa hal, pertama karena mainstream berfikir masyarakat. Kerangka berfikir masyarakat Demak adalah hantu cekik sebagai perwujudan atau jelmaan manusia yang melakukan laku pesugihan, yaitu laku seseorang mencari kekayaan secara gaib. Membunuh sekian orang dengan ciri-ciri yang ditentukan adalah sebagai persyaratan.

Teror hantu cekik biasanya datang bersamaan datangnya kemarau. Setelah musim hujan datang secara berangsur-angsur dengan sendirinya isu hantu cekik ini hilang.

Kalau kita perhatikan di beberapa negara seperti di Jepang misalnya hantu juga hadir pada musim panas. Mungkin musim panas atau kemarau dapat di identikkan dengan paceklik.

Demak yang sebagian besar penduduknya petani mengalami paceklik pangan saat kemarau datang. Saat paceklik datang penghasilan penduduk berkurang, berkurangnya penghasilan ini oleh masyarakat diyakini menjadi sebab orang-orang melaksanakan laku pesugihan, termasuk hantu cekik ini.

Maka yang dicurigai warga adalah orang-orang yang ekonominya di atas rata-rata. Atau warga yang dianggap secara mendadak meningkat ekonominya.

Kedua, cepatnya menyebar isu hantu cekik sehinga menjadi teror adalah karena masyarakat Demak yang mudah percaya, tidak adanya nalar kritis. Isu menyebar dari mulut ke mulut.

Ketiga, hantu cekik ini terdengar lebih menggemparkan kiranya karena terbangunnya solidaritas maskulinitas. Solidaritas maskulin muncul saat kampung ada ancaman maka sebagai seorang suami atau anak laki-laki akan dianggap pengecut jika tidak ikut serta berjaga di gardu. Kaum laki-laki kalau di rumah dan tidak ikut berjaga maka dia dicurigai sebagai hantu cekik atau bisa saja diperolok karena kidak memeliki keberanian, tidak berpartisipasi menjaga keamanan kampung. Maka yang terjadi adalah kaum laki-laki keluar kampung mempersenjatai diri dengan benda tajam di tangan dan senter penerang di tangan yang lain.

Kiranya teror isu hantu cekik ini jangan dianggap sepele. Kecurigaan antar warga dapat menjadi polemik yang berbahaya. Korban salah tangkap yang berlanjut kepada penganiayaan bisa saja terulang lagi. Maka dari itu harus ada upaya penangulangannya.

Untuk mengantisipasi datangnya kembali teror hantu cekik ini kiranya ada dua pihak yang memikili tangung jawab. Demak dikenal sebagai daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Selain memilki pemimpin pemerintahan, masyarakat juga memiliki pemimpin keagamaan yang biasa dikenal dengan sebutan ulama.

Kefakiran itu dekat dengan kekufuran. Saat kemarau atau paceklik datang godaan-godaan selalu datang untuk berpaling dari Yang Maha Esa. Padahal kekufuran itu hal yang tak termaafkan. Kiranya para ulama dapat mengambil bagian dalam hal ini.

Isu hantu cekik dapat menjadi teror dan menyebar dengan cepat karena masyarakat yang mudah percaya. Kiranya pemerintah kabupaten Demak perlu melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan daya kritis masyarakatnya. Pondok pesantren, sekolah, forum-forum pengajian dan madrasah kiranya dapat digunakan tempat untuk berdialog, berdiskusi kepada mereka untuk meminimalisir menebarnya isu tersebut.

Bulan-bulan menjelang kemarau seperti sekarang ini ditambah dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tentu beban hidup masyarakat Demak sangat tinggi. Maka potensi datangnya isu hantu cekik sangat tinggi. Mari upaya-upaya kita laksanakan agar isu itu tidak menjadi teror dan memakan korban orang-orang yang tidak bersalah.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar