Tampilkan postingan dengan label Religion and mistery. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religion and mistery. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Maret 2011

Kultim (Penyejuk Jiwa)


KULTIM (KULIAH TIGA MENIT)

Nama : Faizal Satya P.

Kelas : XII IPA 3

Absen : 16

TEMA: HUBUNGAN HUKUM FISIKA DENGAN TARAF KEIMANAN KITA

ASSALAMU’ALAIKUM WR.WB.

Dewasa ini banyak sekali para pemuda/pemudi yang mengalami transisi jati diri, tetapi hal ini tidak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan modern yang tak jarang menjadikan para remaja mengalami ‘degredasi iman’. Sudah seharusnya kita meningkatkan taraf keimanan (hf) dengan cara menambah kuantitas antara taraf maksimal kesabaran kita(Ekmaks) dengan amaljariyah kita (W0) seperti yang dituangkan dalam rumus energi foton yakni: hf = Ekmaks + W0. Sehingga terciptalah pondasi keimanan yang kuat hfawal =hf akhir. Tetapi pelaksanaannya bukan tanpa rintangan karena semakin panjang rintangan atau cobaan (R) yang harus diimbangi dengan ke ikhlasan (I) maka akan tercipta tegangan keimanan yang semakin besar pula (V) seperti yang ada pada hukum tegangan listrik V = I . R. Jadi taraf kesempurnaan keimanan kita (W) akan semakin sempurna dengan mengkombinasikan tegangan keimanan (V) dengan kualitas ke ikhlasan kita (I) juga seberapa lama kita melaksanakan amalan tersebut (t) dan terbentuk suatu rumus W = V . I . t

Maka seyogyanya mari kita sebagai generasi penerus yang baik selain meningkatkan taraf IQ juga di imbangi dengan taraf keimanan kita. Karena dalam hadist Rasullullah di sebutkan bahwa,seberuntung-beruntungnya kaum muslimin adalah muslim yang lebih baik perilakunya dari kemarin, dan sungguh merugi seorang muslim jika perilakunya konstan(tetap) atau bahkan lebih buruk dari kemarin. Dalam Al-Quran juga disebutkan bahwa orang-orang yang merugi hรกdala orang yang tak bisa memanfaatkan barokah waktu dengan seefisien/sebaik mungkin. Seperti yang di sebutkan dalam Q.S. Al- Asr: 1-3

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 18 September 2009

Anjuran-anjuran kebaikan di Bulan Ramadhan...

NOTO 1:

1- Membaca Al-Quran.

Bulan Ramadhan adalah bulan al-Quran sesuai dengan sunnah Nabi s.a.w. Ibnu Abbas RA berkata; “Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawaanya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawaan Nabi melebihi angin yang berhembus.”

Hadist tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus al-Quran, dan mengadakan ijtima`/berkumpul dalam majlis al-Quran dalam bulan Ramadhan. Membaca dan belajar al-Qur’an bisa dilakukan di dihadapan orang yang lebih mengerti atau lebih hafal al-Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca al-Quran di malam hari. Dalam hadist di atas, modarosah antara Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril terjadi pada malam hari, karena malam tidak terganggu oleh pekerjaan-pekerjaan keseharian. Di malam hari, hati seseorang juga lebih mudah meresapi dan merenungi amalan dan ibadah yang dilakukannya.

Puasa dan al-Quran mempunyai keterkaitan yang sangat dalam. Karena itu Rasulullah s.a.w memperbanyak membaca Al-Quran dalam bulan Ramadhan. Tidak ada yang melebihi al-Quran. Allah menurunkannya lain pada kitab-kitab terdahulu, di dalamnya terdapat hukum-hukum Allah yang tegas, dari al-Qur’an mengalir petunjuk-petunjuk Allah untuk manusia, tidak ada kebohongan, tidak ada penyesatan, ia memberi syafaat kepada orang yang membaca dan mengamalkannya. Rasulullah menegaskan “Barang siapa mendapatkan syafaat al-Qur’an, maka ia akan mendapatkan syafa’at di hari Kiamat”, “Barangsiapa duduk demi al-Qur’an, maka ia tidak akan berdiri keculai dengan mendapatkan kelebihan dan kekurangan, yaitu kelebihan mendapatkan hidayah dan kekurangan dari kebutaan hatinya”. Dengan selalu membaca al-Quran, iman seseorang akan bertambah dan terus bertambah, dan tidak akan luntur apa yang telah ia yakini, hinggga berkuranglah keraguan-keraguan yang ada dalam jiwanya. Tidak ada satu pun penyembuh hati selain al-Quran, karena sebesar-besarnya penyakit hati adalah kekafiran dan kemunafikan serta jauh dari jalan Allah. Dan tiada penawar atas penyakit-penyakit tersebut kecuali al-Quran.

Alim Rabbany syaikh Ahmad bin Abdul-Ahmad as-Sarhindy berkata: “Sesungguhnya di dalam bulan ini (puasa) ada kaitan yang sangat erat dengan al-Quran, dimana pada bulan tersebut al-Quran di turunkan, di dalam bulan tersebut juga dipenuhi segala kebajikan dan berkah dari Allah s.w.t. Setiap kebajikan dan keberkahan yang diterima oleh umat manusia selama setahun penuh, tidak lain hanyalah setetes dari lautan rahmat Allah selama satu bulan ini. Maka sangat beruntunglah mereka yang menyambut dan menghidupkan bulan tersebut dengan melakukan amal soleh dan beribadah, dan merugilah mereka yang tidak meramaikan bulan tersebut dengan beribadah, yaitu mereka yang berpaling dari keberkahan dan kebaikan.”

Dengan demikian, Ramadhan merupakan pesta ibadah, blantika tilawah bagi ummat Islam. Ia ibarat musim semi orang-orang yang muila dam bertaqwa, hari raya bagi hamb-hamba yang shalih, diramaikan dengan mendirikan ajaran-ajaran agama, kebeningan hati dalam ibadah dan berlomba-lomba dalam kabaikan. Seluruh ummat muslim dari segala penjuru dunia serentak berbondong-bondong menyambut kedatangan bulan suci tersebut dengan menghidupkan suasana yang penuh rahmat dan barokah. Allah telah menganugerahkan rahmat dan pertolongan-Nya kepada hambanya yang beramal soleh, mereka yang tidak segan-segan melaksanakan ajaran-ajaran Allah dan selalu asyik tanpa rasa jemu dalam mengamalkan perintah-Nya. Hati mereka selalu bergantung kepada Allah dan setiap hembusan nafas mereka terarah kepada kebaikan.

2.Menahan hawa nafsu dan kesenangan duniawi.

Yaitu dengan mengurangi makan ketika berbuka serta tidak berlebih-lebihan. Dalam sebuah ahdist dikatakan “Tidak ada perkara yang lebih buruk dari pada memenuhi isi perut dengan makanan secara berlebihan”. Ruh puasa terletak pada memeperlemah syahwat, mengurangi keinginan dan mengekang nafsu.

Dari Sahal bin Sa’ad r.a Rasulullah s.a.w. bersabda:” Sesungguhnya di surga ada salah satu pintu yang dinamakan Rayyan: masuk dari pintu tersebut ahli puasa di hari kiamat, tidak ada yang masuk dari pintu itu selain ahli puasa, lalu diserukan “Manakah para ahli puasa?”, maka berdirilah para ahli puasa dan tak ada seorangpun yang masuk dari pintu itu kecuali mereka yang tergolong para ahli puasa, dan apabila mereka sudah masuk, maka pintu sorga tersebut segera ditutup, dan tak ada satu pun yang diperbolehkan masuk setelah mereka”. (Bukhari Muslim).

3.Berdo’a ketika berbuka puasa.

Abu Hurairah r.a berkata: bersabda Rasulullah s.a.w: Ada tiga golongan yang tidak akan ditolak do’anya, mereka itu adalah: orang puasa ketika berbuka, doa pemimpin yang adil dan doa orang yang teraniaya”.

Untuk itu, hendakanya kita sekalian tidak melupakan saudara-saudara kita yang menderita di Palestina, Afghanistan, Kashmir dan Chechnia dan belahan bumi laninnya dalam doa kita. Betapa banyak do’a yang ihlas dan tulus, lebih berguna dibanding ribuan anak panah.

4.Qiyamullail (Tahajjud )

Solat Tarawih hukumnya sunat menurut kesepakan para ulama juga disunatkan untuk meng-khatamkan al-Qur’an selamat shalat tarawih. Hadits-hadits yang menerangkan tentang qiyamullail adalah : Sabda Rasulullah s.a.w: “Barang siapa menghidupan malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan mendapatkan ridho Allah s.w.t semata, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau”.

Abu Hurairah r.a meriwayatjkan bahwa Rasulullah s.a.w. senang menghidupkan bulan Ramadhan dengan melaksanakan qiyamullail dengan tidak memaksakannya kepada para sahabat untuk melaksanakannya dan bersabda:” Barangsiapa yang melaksanakan Qiyamullail pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau.

Alam riwaayt lain Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah mewajibkan atasmu puasa Ramadhan dan disunatkan melakukan Qiyamullail pada bulan suci ini, barang siapa berpuasa dan melaksanakan Qiyamullail dengan penuh keimanan dan harapan maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau”.

Dari Abu Hurairah r.a:”Kemuliaan seorang mu’min teletak pada solatnya yang ia dirikan di tengah malam dan kehormatannya terletak pada ketidak-tergantungannnya terhadap orang lain”. Dari Mughirah r.a, Rasulullah s.a.w selalu bangun tengah malam melaksanakan solat malam hingga bengkak kedua telapak kakinya”.

Para ulama salaf selalu mencari kesempatan untuk menghidupkan malamnya dengan shalat dan membaca Al-Quran sehingga tersentuh jiwanya. Dan apabila membaca ayat yang menerangkan kabar gembira, hatinya terselip harapan yang menggebu-gebu seolah apa yang di janjikan itu ada di pelupuk matanya. Sebaliknya, apabila membaca ayat Al-Qur’an yang menerangkan ancaman maka hati dan kedua telinganya terasa terbius, seolah dahsyatnya suara api neraka berada di ujung telinganya, lalu mereka pun meletakkan keningnya di atas bumi sambil memohon kepada Allah agar dijauhkan dari pedihnya api neraka dan meminta pertolongan agar diberi kemenangan atas musuh-musuhnya.

5. Berlomba-lomba dalam bersedekah.

Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar(berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi:” Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun”. (Bukhari Muslim)

Anjuran untuk berlomba-lomba dalam bersedekah dan membiasakan diri untuk berderma dan semaksimal mungkin memberikan apa yang kita punya sesuai dengan hadis Rasulullah yang diriwayatkan Ibnu Abbas yang artinya:” Rasulullah orang yang paling dermawan terlebih ketika berjumpa denga malaikat Jibril dan malaikat Jibril selalu menemuinya setiap malam dibulan Ramadhan hingga akhir bulan itu.” (HR Bukhari)

Dan pada hadis yang lain disebutkan bahwasanya Rasulullah orang yang paling sempurna akhlaqnya, paling dermawan dan kedermawanannyha mencakup semua segi, di antaranya memberikan ilmu, harta, dan jiwanya kepada Allah demi menegakkan agama dan memberi petunjuk kepada hamba-Nya, membaktikan dirinya untuk ummat dalam segala aspek dan semua kedermawanannya semua hanya demi Allah. Rasulullah lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri, keluarga dan anak-anaknya, beliau memberikan apa yang para raja-raja tidak mampu memebrikannya, lebih suka hidup sederhana, sehingga tidak jarang dalam sebulan atau dua bulan dapurnya tidak mengepulkan asap. Kedermawaan beliau semakin bertambah ketika masuk bulan Ramadhan, karena keutamaan waktu mengartikan kautamaan beramal di dalamnya, dan menjadikan pahala berlipat ganda di dalamnya.

Membantu orang berpuasa dan orang yang menjalankan ketaatan, berhak mendapatkan pahala seperti pahala orang yg melakukannya, tanpa mengurangi sedikit pun pahalanya, karena Allah adalah Maha Dermawan terhadap hamba-Nya dengan rahmat dan maghfiroh-Nya dalam bulan Ramadhan ini. Maka sepatutnya bagi seorang hamba harus bisa membalas kebaikan-Nya dengan berderma harta dan jiwanya sehingga ia berhak mamperoleh rahmat Allah.

Di antara keutamaan sodaqah adalah meredam murka Allah dan terhindar dari suu’ul khatimah, yaitu meninggal dalam keadaan sesat. Sodaqah juga mempunyai pengaruh yang sangat luar biasa untuk menolak bermacam cobaan dan malapetaka, melebur kesalahan, meredamnya sebagaimana air mematikan api, sodaqah bisa membuat hati menjadi senang dan dada terasa lapang. Untuk itulah kita dilarang bakhil. Abdurrahman bin Auf setiap kali bertawaf di Makkah selalu berkata: “Ya Allah lindungilah aku dari jiwa yang bakhil.”

6. I`tikaf di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan.

I`tikaf di sepuluh terakhir bulan Ramadhan merupakan penyempurna ibadah puasa. Ini karena I’tikaf artinya mengkonsentrasikan diri menghadap Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada-Nya. Hingga kecintaannya semata hanya kepada Allah, mengalahkan kecintaannya kepada selain Allah. Inilah tujuan I’tikaf di hari-hari terakhir bulan Ramadhan, hari yang paling utama selama bulan tersebut. Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan merupakan keutamaan yang dipilih oleh Allah SWT.

Diriwayatkan dari `Aisyah r.a. bahwasanya Nabi Muhammad saw selalu beri`tikaf di malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan hingga ajal menjemputnya, kemudian sunnah ini dihidupkan lagi oleh isteri-isteri Rasulullah selepas kematiannya” (Bukhari Muslim). Ini merupakan gambaran akan kesungguhan dalam beribadah dan kesiapan Rasulullah dalam menyambut Ramadhan.

Dari `Aisyah r.a berkata: bahwa Rasulullah s.a.w. apabila memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malam dan membangunkan anggota keluarganya dan beliau kencangkan pakaiannya” (Bukhari Muslim).

Saudaraku!

Ingatlah bahwa pintu menuju kebaikan itu bermacam-macam. Oleh karena itu kita seyogyanya memasuki salah satu pintu tersebut. Ahmad Bin Hanbal menegaskan : “Tidaklah dikatakan seorang itu berilmu sebelum ilmunya mencerminkan perkataannya dan ahlaknya”. Dan sebagian dari pintu kebaikan adalah berdo`a karena do`a adalah penggerak dari ibadah dan sebaik-baik do`a dan dzikir adalah yang diajarkan oleh Rasulullah saw karena beliau adalah hamba yang paling tahu akan Tuhan Yang Maha Mengabulkan do`a kita.

7. Menjauhi Larangan Agama:

Hal yang perlu diperhatikan oleh seorang mu`min adalah menjaga lisan dari mengguncing dalam keadaan berpuasa sebagaimana yang dipesankan Rasulullah s.a.w: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan ghibah maka tiada artinya di sisi Allah baginya berpuasa dari makan dan minum” (HR: Bukhari).

Berkata Ibnu Battal: Bukan berarti kemudian ia meninggalkan puasa, tapi ini merupakan peringatan agar meninggalkan perkataan dusta dan ghibah. Adapun makna perkataan Rasul: “Tiada arti di sisi Allah s.w.t.” menurut Ibnu Munir adalah: tamsil dari ditolaknya puasa yang bercampur dengan dusta. Adapun puasa yang bersih dari pekerjaan tercela tersebut, insya Allah akan tetap diterima.

Ibnu Arabi berkata: Umat-umat sebelum kita cara berpuasanya hanya menahan diri dari bicara namun diperbolehkan makan dan minum, begitupun mereka tidak sanggup, sehingga Allah meringankan dengan dihapusnya setengah hari yaitu malam dan dihapusnya setengah puasa yaitu puasa dari bicara, namun mereka tetap tidak sanggup, mereka bahkan melakukan tindakan-tindakan yang diharamkan agama. Kemudian Allah meringakan lagi untuk meningkatkan derajat manusia dengan meninggalkan perkataan dusta dan munkar. Allah pun mewayuhkan kepada Rasulullah s.a.w. “Barangsiapa yang berkata dusta atau berbuat munkar maka Allah s.w.t. tidak menerima puasanya dari makanan dan minuman. Maka beruntunglah mereka yang menyibukkan diri dengan aibnya hingga tidak memikirkan aib orang lain dan beruntunglah mereka yang tinggal di rumah, sibuk dengan ibadah kepada Allah, menangisi kesalahannya di saat manusia sedang terlelap tidur.

Selain itu, selayaknya kita tidak ikut campur urusan orang lain sehingga kita terseret dalam kemungkaran atau menjerumuskan orang lain dalam kemungkaran. Kalau ada orang yang mengganggu kita, hendaklah kita ingatkan bahwa kita sedang berpuasa, sebagaimana diajarkan Rasulullah saw: Apabila dihina oleh seseorang hendaklah ia ucapkan saya sedang berpuasa. Demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, mulut seorang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dibanding minyak wangi misik”.

Maka seorang mu`min yang menguasai syahwatnya dan menahan dirinya dari makanan dan minuman yang halal, menahan dirinya dari menggauli istrinya yang halal, seyogyanya ia juga menjaga dirinya dari hal yang jelas-jelas diharamkan di luar bulan puasa. Mulut ini, dijadikan Allah swt tidak untuk mengumpat. Mulut yang dijadikan Allah lebih harum dibanding aroma minyak misik, janganlah sengaja dikotori dengan perkataan dusta atau menghina meskipun dalam keadaan terpaksa. Hendaklah ia berkata pada dirinya: “Saya sedang berpuasa dan tidak dihalalkan bagiku berbuat hal tersebut”

Oleh Karena Itu Saudaraku hendaklah engkau buat jadwal bagimu. Aturlah waktumu dan sisakan waktu buat ibadah, jangan sampai engkau kehilangan barokah serta keutamaan Ramadhan, sesungguhnya waktu Ramadahan terlalu singkat untuk meraih seluruh keutamaannya, maka persiapkanlah dirimu sekarang untuk menghadapi bulan penuh berkah, rahmah dan maghfirah ini.

Tiada kata yang pantas untuk mengakhiri tulisan ini, selain firman Allah s.w.t. dalam surat Fatir ayat 32-34 “Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang dzalim pada diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang biasa saja dan diantara mereka ada yang lebih banyak berbuat kebaikan. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. Bagi mereka surga Eden yeng mereka masuki dengan dihiasi gelang-gelang emas dan mutiara dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. Mereka berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan kami, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan penerima Syukur”.




[+/-] Selengkapnya...

Keutamaan Itikaf

Banyak Keutamaan Itikaf

BULAN Ramadhan 1430 H, sudah memasuki sepuluh hari terakhir. Sebagian umat Islam yang berpuasa, akan menjalankan itikaf sesuai yang disunnahkan Rasulullah Muhammad SAW.

Iktikaf adalah berdiam di mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Hukum itikaf adalah Sunnah Muakkad (yang dikuatkan atau sangat dianjurkan).
Hal ini dilakukan Rasulullah SAW pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan bersama istri-istri, dan para sahabat Nabi. Kebiasaan yang saat ini telah banyak menghilang dan yang tersisa hanyalah tulisan-tulisan dalam buku-buku.

Banyak umat Islam saat ini yang enggan melaksanakan itikaf, padahal begitu banyak keutamaannya.
Tak kurang pula hadist shahih yang menjelaskan mengenai keutamaan itikaf itu, di antaranya:
Dari Abu Hurairah, “Rasulullah SAW ber-itikaf di sepuluh hari akhir bulan Ramadhan sampai Allah SWT mewafatkan beliau.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari Aisyah, “Telah ber- itikaf Rasulullah bersama istri-istri beliau kecuali aku yang saat itu sedang haid.” (HR Bukhari).
Rasulullah bersabda, “Itikaf itu mencegah dari perbuatan dosa dan mengalirkan kebaikan. Jika engkau ber itikaf, hal itu seperti engkau berbuat semua jenis kebaikan yang ada dimuka bumi.” (HR Ibnu Majah)

SYARAT ITIKAF
Syarat-syarat itikaf, yakni dilaksanakan di Mesjid Jami (mesjid tempat dilaksanakannya salat fardu Jumat) berdasarkan hadist dari Aisyah, “Sunnah bagi orang yang ber-itikaf adalah tidak keluar dari mesjid kecuali jika ada keperluan yang mendesak, tidak menjenguk orang sakit, dan tidak menggauli istrinya. Tidak ada itikaf kecuali di mesjid jami dan sunnahnya bagi yang beritikaf adalah puasa.” (HR Baihaqi dan Abu Daud)

Hal-hal yang dibolehkan dalam ber-itikaf, yakni: Keluar mesjid untuk suatu keperluan seperti mandi, buang air dan urusan yang sangat mendesak berdasarkan hadist riwayat Baihaqi dan Abu Daud di atas.

Wanita dibolehkan ber-itikaf, baik bersama suami maupun sendirian berdasarkan hadist bersumber pada Aisyah, “Telah ber- itikaf Rasulullah bersama istri-istri beliau kecuali aku yang saat itu sedang haid.” (HR Bukhari).
Setelah Rasulullah SAW wafat, kebiasaan itikaf ini diteruskan oleh istri-istri Nabi dan para sahabat Rasulullah.

TAK ADA AMALAN KHUSUS
Sedangkan yang membatalkan itikaf adalah jima (menggauli istri). Hal ini berdasarkan firman Allah dalam QS. Al Baqarah [2]:187.
Tidak ada amalan atau doa khusus yang diajarkan Rasulullah SAW dalam ber-itikaf, tapi Rasulullah saw pernah mengajarkan kepada Aisyah sebuah doa di sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk memperoleh Lailatul Qadar.
Aisyah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, pada malam-malam Lailatul Qadar, apa yang sebaiknya aku lakukan?”
Nabi menjawab, “Berdoalah dengan melafazkan, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, dan menyukai ampunan, maka ampunilah aku) ” (HR At Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah).
Demikianlah penjelasan soal itikaf yang bersumber pada kitab Qiyam Ramadhan karya Syaikh M. Nashiruddin Albani dan Bid’ah-Bid’ah yang dianggap Sunnah karya Syaikh Muhammad Abdussalam, seperti ditulis M. Yasser Fachri dirilis eDakwah.




[+/-] Selengkapnya...

Amalan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW

Amalan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW di malam-malam terakhir Ramadhan adalah sbb:

1. Selalu menjaga kebersihan dan menggunakan wewangian.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Asim bahwa

Huzaifah pernah mengerjakan qiyam (ibadah malam) Ramadhan bersama Rasulullah dan melihat bahwa Rasulullah SAW mandi pada malam itu.

Ibnu Jarir pula berkata bahwa sahabat-sahabat nabi menyukai mandi pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan

Demikian pula beberapa riwayat dari sahabat seperti Anas bin Malik dan ulama pada masa Tabiin menyatakan bahwa mereka akan mandi, memakai baju indah dan memakai harum-haruman apabila berada pada akhir bulan Ramadhan.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, sahabat dan tabiin ini adalah satu upaya untuk menyambut dan merayakan dengan gembira kedatangan Lailatul Qadar, sembari berdoa untuk mendapatkan keampunan dan keberkahan.

2. Melaksanakan shalat sunnah, I’tikaf serta memperbanyak membaca Al-Quran.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan satu hadits dari Siti Aisyah ra, berkata: Rasulullah apabila telah masuk 10 akhir dari Ramadhan, maka Baginda akan menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya dan mengikat pinggangnya .

Para sahabat dan ulama berbeda pendapat dalam memberikan penafsiran terhadap hadits diatas. Akan tetapi mereka sepakat bahwa Rasulullah melebihkan ibadahnya pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.

Rasulullah tidak akan melalui (dengan membaca) ayat-ayat rahmat kecuali berharap Allah SWT memberikan rahmat itu dan tidak melalui (dengan membaca) ayat-ayat adzab kecuali mohon perlindungan kepada Allah SWT dari azab itu.

Selain shalat dan membaca Al Quran, di 10 hari terakhir Ramdahan, biasanya diisi oleh Rasulullah dengan ber-itikaf di masjid dan tidak tidur bersama isteri-isterinya. Hal ini berdasarkan hadits dari Siti Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Berkata: Bahwa Rasulullah beriktikaf pada 10 hari terakhir hingga wafat.

3. Dengan memperbanyak doa.

Rasulullah bersabda: Doa adalah otak segala ibadah. Doa juga kunci dari semua ibadah. Siti Aisyah diperintahkan oleh Rasulullah untuk memperbanyak doa pada 10 hari terakhir di malam bulan Ramadhan

Dalam satu hadits dari Siti Aisyah diriwayatkan Imam At-Tirmizi, Siti Aisyah diajarkan oleh Rasulullah SAW membaca doa pada malam Lailatul Qadar.

Ulama bersepakat bahwa doa yang paling utama pada malam Lailatul Qadar itu adalah doa yang meminta keampunan dan ke-maafan dari Allah SWT sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah kepada Siti Aisyah. Doanya berbunyi: Allahumma innaka afuwun tuhibbul afwa fa fu anni (artinya, Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun, maka ampunilah aku ini).

Pada malam itu Allah SWT akan mengabulkan semua permohonan dan doa, terkecuali terhadap empat golongan manusia. Ibnu Abbas berkata: “Semua doa pada malam itu diterima terkecuali doa orang meminum arak, anak yang durhaka kepada ibu bapak, orang yang selalu bertengkar dan mereka yang memutuskan silaturahim .

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barang siapa yang mendirikan Lailatul Qadar dengan iman dan ketakwaan, maka Allah akan menghapuskan semua dosanya yang telah lalu” . (HR. Bukhari dan Muslim).

(Semoga kita termasuk dalam barisan orang-orang yang diberi kesempatan menikmati indahnya malam seribu bulan…, malam yang penuh dengan barakah, malam yang penuh dengan keindahan, malam yang penuh dengan kasih-sayang, malam yang penuh dengan pengampunan, malam yang penuh dengan kebahagiaan…. malam yang tidak akan pernah dapat dilupakan sepanjang hayat…. Amin Ya Rabbil Alamin_)



[+/-] Selengkapnya...